Menjaga Api Ambisi Tanpa Kehilangan Diri: Refleksi Kepemimpinan yang Berkelanjutan
Mengelola ambisi adalah seni menyeimbangkan antara dorongan untuk berprestasi dengan kejernihan niat. Belajar dari Dr. Indrawan Nugroho, kita membedah mengapa pemimpin harus memiliki ambisi yang setinggi langit, namun tetap harus waspada agar tidak terjebak dalam perilaku "ambisius" yang obsesif dan merusak.
BERITA
2/26/20261 min read
Dalam perjalanan karir dan kepemimpinan, sering kali kita terjebak dalam perlombaan tanpa henti menuju puncak. Namun, sebuah pertanyaan kritis muncul: apakah kita sedang didorong oleh ambisi yang sehat, atau kita telah menjadi sosok yang "ambisius" dalam konotasi negatif? Terinspirasi dari kajian Dr. Indrawan Nugroho, terdapat perbedaan fundamental yang menentukan apakah kesuksesan kita akan membawa kebahagiaan atau justru kehampaan.
Ambisi vs. Ambisius: Niat vs. Obsesi
Ambisi yang sehat lahir dari dalam diri (internal). Ia adalah dorongan positif untuk bertumbuh, memberi manfaat, dan menjawab panggilan jiwa. Sebaliknya, sikap "ambisius" sering kali dipicu oleh faktor eksternal—keinginan untuk pembuktian diri, haus akan pengakuan, atau sekadar validasi dari orang lain. Bagi seorang pemimpin, memahami sumber motivasi ini sangat krusial. Pemimpin dengan ambisi yang jernih melihat target sebagai alat untuk mencapai makna yang lebih besar, sementara pemimpin yang ambisius menjadikan target sebagai identitas tunggal mereka.
Dampak pada Keberlanjutan Kepemimpinan
Secara manajemen, kepemimpinan yang didasari oleh obsesi (ambisius) cenderung bersifat eksploitatif, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Mereka sering kali mengorbankan relasi, kesehatan, dan integritas demi mencapai angka-angka di atas kertas. Namun, seorang High Performing Individual yang sejati tahu kapan harus menekan pedal gas dan kapan harus beristirahat. Mereka menjaga keseimbangan antara akal (strategi bisnis) dan jiwa (pelayanan). Kesuksesan tanpa jiwa yang utuh hanyalah kemenangan yang semu.
Analogi Pendaki: Sampai ke Puncak dengan Jiwa yang Utuh
Dr. Indrawan memberikan analogi yang sangat menyentuh tentang dua tipe pendaki gunung. Tipe pertama hanya peduli pada puncak; ia mendaki dengan tergesa-gesa, mengabaikan keindahan perjalanan, dan mungkin meninggalkan rekannya yang tertinggal. Tipe kedua menikmati setiap langkah, membantu sesama pendaki, dan sadar akan keberadaannya di alam. Keduanya mungkin sampai di puncak yang sama, tetapi hanya satu yang pulang dengan cerita yang bermakna dan jiwa yang utuh.
Sebagai pemimpin di era akselerasi ini, ambisi kita harus tetap tinggi untuk membawa organisasi melompat lebih jauh. Namun, pastikan orientasi kita tetap pada kontribusi, bukan sekadar komparasi. Pemenang sejati di akhir hari bukanlah mereka yang memiliki piala paling banyak, melainkan mereka yang tetap memiliki diri sendiri saat sampai di garis tujuan. Mari memimpin dengan ambisi yang memberi kehidupan, bukan ambisi yang mematikan kemanusiaan kita.

