Mengubah "AI Reality" Menjadi Profitabilitas di Pasar Indonesia

Laporan e-Conomy SEA 2025 menegaskan transisi besar dari dekade digital menuju realitas AI. Dengan Indonesia masuk dalam jajaran 150+ kandidat IPO regional dan lonjakan video commerce, manajemen bisnis dituntut untuk bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan (growth) menuju strategi monetisasi yang berkelanjutan dan berbasis data.

BERITA

1/30/20262 min read

Memasuki tahun 2026, manajemen bisnis di Indonesia harus menyadari bahwa "aturan main" telah berubah secara fundamental. Laporan e-Conomy SEA 2025 menunjukkan bahwa ekonomi digital kita tidak lagi hanya tentang membakar uang untuk mendapatkan pengguna, melainkan tentang pendalaman partisipasi digital melalui strategi monetisasi yang cerdas. Dengan proyeksi pendapatan regional mencapai $135 Miliar, fokus manajemen harus beralih pada penguatan unit ekonomi. Salah satu katalis utamanya adalah Video Commerce yang kini menyumbang 25% dari total GMV e-commerce. Bagi pemimpin bisnis, ini artinya investasi pada konten hiburan yang terintegrasi langsung dengan penjualan (Retail Media) bukan lagi pilihan sampingan, melainkan mesin utama pendapatan yang harus dikelola secara profesional untuk meningkatkan rata-rata nilai pesanan (Average Order Value).

Dari sisi operasional, Indonesia memiliki modal besar berupa populasi yang sangat melek digital dan memiliki minat terhadap AI yang memimpin secara global. Namun, tantangan manajemen di tahun 2026 adalah melampaui euforia AI dan mulai membangun sistem yang transparan untuk memenangkan kepercayaan konsumen. Laporan ini menyoroti bahwa AI sedang mendefinisikan ulang jalur pembelian—dari pencarian linier menjadi proses Discovery yang ditenagai AI. Manajemen harus memastikan bahwa strategi pemasaran mereka mampu mengarahkan pengguna dari rasa ingin tahu awal hingga keputusan pembelian akhir melalui alat pencarian berbasis AI dan masukan multimodal. Tanpa adaptasi pada teknologi penemuan ini, bisnis berisiko kehilangan relevansi di mata konsumen yang semakin terbiasa dengan asisten digital.

Sektor keuangan digital juga menunjukkan kematangan yang signifikan, di mana adopsi QR nasional dan lintas batas telah menjadi standar. Bagi manajemen, ini adalah peluang besar untuk memanfaatkan Data Transaksi sebagai instrumen underwriting dalam bisnis pinjaman (lending) dan manajemen risiko. Di sisi lain, munculnya sinyal positif di pasar modal global dan regional menempatkan Indonesia, bersama Malaysia dan Singapura, dalam daftar 150+ kandidat IPO. Hal ini memberikan tekanan positif bagi manajemen untuk mulai merapikan tata kelola perusahaan (corporate governance) dan menunjukkan profil profitabilitas yang kuat sejak tahap awal, guna memikat kembali minat investor yang kini lebih selektif dan berfokus pada pendanaan tahap akhir (late-stage funding).

Sebagai kesimpulan, tahun 2026 adalah tahun pembuktian bagi manajemen bisnis di Indonesia untuk menunjukkan ketangkasan dalam menyeimbangkan antara efisiensi biaya dan inovasi teknologi. Dengan biaya teknologi AI yang masih tinggi dan regulasi yang terfragmentasi di ASEAN, para pemimpin harus mampu mengidentifikasi titik investasi yang memberikan ROI (Return on Investment) terbaik. Keberlanjutan bisnis di masa depan tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar basis pengguna yang dimiliki, melainkan seberapa dalam bisnis tersebut mampu mengintegrasikan AI ke dalam inti produk dan seberapa transparan mereka dalam mengelola data pelanggan untuk menciptakan hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan.

Referensi: e-Conomy SEA 2025