Menemukan Makna Hidup di Tengah Kehampaan Era Modern

Kajian ini membedah pemikiran Viktor Frankl mengenai Logoterapi sebagai jawaban atas kebingungan eksistensial yang dialami manusia modern secara umum. Fokus utamanya adalah mengubah paradigma dari sekadar mengejar kebahagiaan menjadi pencarian makna, serta memanfaatkan potensi era digital sebagai sarana untuk memperluas koneksi, kontribusi, dan dukungan kolektif dalam mewujudkan tujuan hidup.

BERITA

2/1/20261 min read

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang terjebak dalam apa yang disebut Viktor Frankl sebagai existential vacuum atau hampa eksistensial, di mana rutinitas dan pencapaian materi terasa hambar dan tidak bertujuan. Kebingungan ini sering kali berakar dari kesalahan kita dalam mengejar kebahagiaan sebagai tujuan akhir, padahal Frankl mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanyalah efek samping dari hidup yang bermakna. Kita tidak perlu menunggu "tujuan besar" di masa depan untuk merasa hidup; sebaliknya, makna bisa ditemukan di sini dan saat ini dengan cara merespons tanggung jawab kecil yang ada di depan mata dan memahami bahwa setiap momen memiliki potensi makna yang unik.

Pencarian makna ini semestinya menjadi lebih mudah di era digital karena teknologi memungkinkan kita untuk saling terhubung tanpa batasan jarak. Pemanfaatan tiga pintu utama makna—yaitu melalui karya, pengalaman/cinta, dan sikap terhadap penderitaan—kini memiliki ruang gerak yang lebih luas. Melalui platform digital, kita bisa memperlihatkan makna yang sebetulnya kita cari dan mendapatkan resonansi dari orang lain. Jika hambatan dalam mewujudkan makna tersebut adalah masalah finansial, dunia digital menyediakan solusi seperti crowdfunding atau penggalangan dana kolektif. Selain itu, nilai dari audiensi atau atensi digital saat ini sering kali lebih berharga daripada sekadar uang, karena dukungan dan perhatian tersebut merupakan aset moral yang memperkuat langkah kita dalam menjalankan misi hidup.

Pada akhirnya, puncak dari kemanusiaan kita tetap bersandar pada satu prinsip yang tak tergoyahkan. Meski situasi lingkungan, keterbatasan ekonomi, atau tekanan eksternal mungkin membatasi gerak kita secara fisik, Frankl menegaskan bahwa ada satu hal yang tidak akan pernah bisa dirampas oleh siapa pun, yaitu kebebasan terakhir manusia. Kebebasan ini bukanlah kebebasan dari masalah, melainkan kebebasan untuk memilih sikap dalam menghadapi situasi apa pun yang menimpa kita. Di dalam ruang antara rangsangan (masalah) dan respons yang kita berikan, di situlah terletak kekuatan, kedaulatan, dan pertumbuhan kita sebagai manusia untuk menentukan arah hidup yang bermakna.

Ref: Man Serach For Meaning, Youtube Bacasuara
Link Marketplace: Buku